Showing posts with label yang terlintas. Show all posts
Showing posts with label yang terlintas. Show all posts

Tuesday, April 8, 2008

Apakah aku adalah ... ?

Kadang aku berpikir...apakah aku adalah anugrah untuk suamiku?Semoga....

Beberapa kejadian membuat aku berpikir seperti ini. Bukan sombong, tapi aku senang kalau memang aku bisa jadi anugrah untuknya. Ceritanya berawal dari waktu pacaran dulu. Aku ingat sekali waktu calon suamiku dulu berjanji "aku akan nikahi kamu kalau aku naik pangkat" dan ternyata tidak lama kemudian, dia betul-betul naik pangkat!Hahaha...kutertawakan dia waktu dia berkata "Aku pusing, aku naik pangkat". Kuganggu saja dia dengan berkata "Pusing karena harus menikahiku ya?" Bukan ingin segera dinikahi, namun rasanya apa yang dia inginkan terjadi. Setelah beberapa lama tidak naik pangkat, akhirnya keinginannya terkabul. Kebetulan, aku sudah ada bersamanya. Kejadian itu tidak sampai disitu, setelah ada aku ternyata karirnya lumayan terlihat dengan beberapa kali naik pangkat. Hmm...mungkin bukan karena aku sebetulnya, tetapi karena kerja kerasnya karena harus bertanggung jawab dengan adanya aku. Tapi aku ternyata seringkali berpikir bahwa akulah sumber keberhasilannya, hahahahaha....

Kalaupun iya, terima kasih ya Tuhan...semoga aku bukan hanya anugrah buat suamiku, tetapi buat orang disekitarku.... Dan jangan jadikan aku sombong karena pemikiranku. Ingatkan aku...

Bajak-Membajak

Berita 1 :
Ayat-Ayat Cinta dibajak!!

Waaahhh...serunya berita ini di infoteinmen...Sampe-sampe produsernya protes ke DPR dan minta supaya pembajaknya ditangkep. Buseeettt....Paak...Pak...apa ga tau resiko bikin film atau lagu-lagu di CD? Ya dibajak....

Udah gitu, yang lucu ada salah seorang pemeran antagonis dalam film itu (susah nulis namanya), ngomong di tv dengan kesal kalau dia menyayangkan film AAC yang dibintanginya dibajak. Katanya...ga papa lah film Hollywood dibajak, yang penting jangan film Indonesia yang dibajak.

Yeeee.....egois...

Berita 2 :
Dewi Persik dicekal di Tangerang.

Warga yang marah kemudian men-sweeping (halaaahhh...bahasanya....) CD & VCD yang mengandung unsur Dewi Persik. Lhaaa....yang di-sweeping kok pedagang CD, DVD & VCD bajakan dan trus dirusak dan dibakar. Kenapa juga bukan yang asli kalo serius? Ini sweeping yang bajakan apa gimana?

Positifnya : Dewi Persik dibantu sweeping CD, VCD, DVD bajakannya dong....

Gimana si? Bingung..

Kembalian

Sekarang uang kembalian dari belanja sering jadi masalah. Termasuk aku...Ya bete lah kalo kembalian kurang...Sebetulnya si bukan jumlahnya, tapi niatan dari kasirnya untuk ga ngembaliin itu yang mengesalkan. Lebih mengesalkan lagi, adanya kesempatan dari toko/pengusaha untuk membuat itu...Punya harga belakangnya bukan 25 atau 50 atau kalopun harga belakangnya 25 atau 50 kembaliannya ga disediain pecahan 25 atau 50. Lha piye iki?Niat apa kagak?

Belum lagi di PLN sini....Balikpapan. PLN Balikpapan...Kalo bayar listrik...kita kasihin pembayaran yang bulan kemaren, trus sama dia di-print trus nyebutin dengan jumlah kelipatan 1000. Terus...kalo kita dah bayar, dia kembaliinnya sesuai dengan yang dia sebutin walopun jumlahnya ga segitu. Misal...di rekeningnya tertulis 47745 rp, kita bayar 50rb, dia kembaliin 2rb. Bayangin kalo hari itu yang bayar 50 orang. Kelebihannya misal 200, sehari 10rb..padahal listrik dibayar sampe tanggal 20. Lumayan tuh...

Pernah juga kejadian di parkiran BC. Balikpapan Center...Balikpapan lagi... Parkir motor 2 jam pertama 500 perak. Kalo kita bayar pake uang 1000 ga dikembaliin!!!

Jadi inget...waktu Nana jadi teller, uang itu mesti pas, ga boleh ada lebih ga boleh kurang. Ga boleh ada selisih intinya. Kalo ada selisih, dia didenda. Coba kalo supermarket atau apapun deh yang pake kembalian ada kayak gitu...kan enak...semua balance...

Tapi anehnya...si pengusaha ini, yang masalah ini dah masuk tivi, koran, ya ga digubris...walopun dengan tujuan perang harga, tapi siapin dong solusinya....

Sebel...sebel..sebel...Ga ada solusi....

Monday, April 7, 2008

Sampah

Sejak Agustus kemaren aku concern banget soal sampah. Ga tau ni kenapa...
Aku ikut seminar tentang sampah untuk dijadiin kompos, aku liat TV tentang pemanfaatan sampah, ah pokoknya tentang sampah deh, hehe...
Kalo dipikir-pikir...mestinya sekarang timbunan sampah itu bisa dikurangi lhooo...lha, sampah organik bisa dijadiin kompos, sampah plastik bekas bungkus detergen dll bisa dijadiin barang lain, botol bisa dijadiin souvenir atau dihias dijadiin hadiah, botol plastik bisa dijual lagi ke produsennya atau dijadiin mainan, tapi kenapa ya sampah masih aja numpuk?
Pengalaman kemaren ini seminar tentang pembuatan kompos, sebetulnya kita bisa bikin kompos sendiri secara sederhana. Dengan metode keranjang Takakura atau dengan bantuan urea. Malahan kalau dalam jumlah besar, kompos bisa dijual. Caranya cuma kita tinggal misahin sampah organik dan nonorganik aja. Yang organik, diolah jadi kompos. Nah...yang nonorganik bisa dikumpulin dan dijadiin barang lain. Liat di TV, ada yang dijadiin tas, tempat sampah, payung, dlsb.

Sampaaaaahhh....oooohhhh....sampaaahhh....

*dilanjutin besoksoalnyalagigakonsennijadingacobahasanya*

Lagu

"...pacarku sayangilah aku....seperti kumenyayangimu...tapi...kamu kok selingkuh..."

"oo kamu ketauan...pacaran lagi...dengan dirinya...teman baikku..."

Lagu-lagu ini kemaren dinyanyiin waktu tetanggaku kawinan. Rasanya lucu aja, lagu kawinan kan biasanya yang romantis ato gimanaaaa...tapi ini kok lagu patah hati. Sebetulnya bukan cuma 2 lagu itu aja, tapi ada beberapa lagu lain tentang patah hati yang dinyanyiin. Aku berasa aneh aja....Masa di kawinan lagunya kayak gitu?Kawinan kan bersatunya 2 manusia dengan segala perasaan cinta dan sayangnya, tapi kalo lagu yang dinyanyiin kayak gitu jadi gimana ya?....... berasa aneh aja siii.....

Salah Satu Kegundahan

Pastor Rubyatmoko,
Saya adalah salah satu peserta dari Seminar Hukum Kanonik di Balikpapan kemarin.Saya kemarin sebetulnya ingin bertanya, namun saya pikir ini adalah persoalan pribadi dan mungkin membuat tertawa orang yang mendengarnya atau pastor yang menjawabnya, hehehe...
Gini Pastor,Saya termasuk anak nekat dan termasuk berapa persen dari orang-orang di Jawa yaa...yang ga nikah dengan orang Katolik lagi. Saya sudah 1 tahun lebih menikah beda gereja dengan seorang laki-laki (ya pastinya....soalnya dah dicek dan tulen kok :p). Sebelum menikah, saya sempat eyel-eyelan sama ibu saya mengenai ini. Ibu saya 'memaksa' supaya calon suami saya (waktu itu) menjadi Katolik seperti amanat Bapak saya. Saya tidak mau, karena buat saya dan suami, kalaupun harus pindah bukan karena seseorang, tetapi memang panggilannya untuk mengikuti Tuhan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Saya juga sempat berkonsultasi dengan seorang pastor mengenai hal ini, namun pastor menyerahkan semua keputusannya pada saya.Akhirnya kami menikah di gereja Katolik dan seneeeeeengggg banget rasanya ketika tau bahwa apa yang kami jalani merupakan pernikahan yang sah dan merupakan sakramen =)
Buat kami berdua yang saat ini belum mempunyai keturunan, rasanya sampai saat ini tidak ada masalah mengenai hal itu. Saya dibiarkan oleh suami saya berkembang dalam kegiatan di lingkungan. Tidak ada halangan sama sekali dari dia. Demikian pula saya, membiarkannya kalau dia mengikuti kegiatan di gerejanya. Namun, belakangan ini saya merasa bahwa orang di lingkungan saya bermasalah dengan keadaan saya. Pernah suatu ketika, saat latihan koor orang lingkungan bertanya mengenai suami saya. Ketika beliau tau bahwa suami saya seorang Kristen Protestan (Gereja daerah seperti GKJ), beliau menyuruh saya untuk membawa suami saya menjadi warga Gereja Katolik.
Dan kemarin ini, sewaktu istirahat siang, ibu-ibu lingkungan mengatakan hal yang sama, mengajak suami saya menjadi warga Gereja katolik. Sebelumnya, ketika saya ditawari 'tiket' untuk seminar ini oleh ketua lingkungan, saya masih mikir-mikir, namun akhirnya saya ikut juga setelah mendaftar di gereja dan bukan di lingkungan. Saya juga menawarkan pada suami saya, tapi mungkin karena belum sreg, dia ga mau. Saya tidak memaksa. Dan ketika saya berbincang dengan ibu-ibu ini, seolah-olah, mereka menyuruh saya untuk ikut karena perbedaan yang ada pada keluarga kami. Yaaaa mungkin ini hanya perasaan saya...mudah-mudahan....tetapi terus terang saya menjadi tidak nyaman dengan keadaan ini. Satu sisi saya ingin sekali aktif, sisi lain saya menjadi malas karena omongan-omongan itu.
Lain lagi dengan teman saya yang membawa 1 Petru 3:1 sebagai anjuran agar saya ikut suami.Semakin bingung lah saya....
Bagaimana saya harus menyikapinya Pastor?
Pikiran saya : mudah-mudahan dengan saya rajin di lingkungan, hati suami saya tergerak dan pindah...tapi kalau keadaan seperti ini, jadi malas juga ikut-ikut, hehehe....

Calo

Waktu mau pergi ke Jakarta untuk liburan kemarin, begitu mau masuk Bandara Sepinggan, banyak orang bertanya, apakah kami sudah punya tiket atau belum. Karena perjalanan kami sudah terjadwal, semua tiket sudah ada di tangan.

Cerita pengalaman kami waktu ketinggalan pesawat di Batam kemaren ini.Aku yang duduk di dalem, sementara Nana mencari tiket di luar, memperhatikan kesibukan Bandara Hang Nadim saat weekend (hari itu hari Jumat), dimana orang banyak yang ingin pulang sehingga Bandara benar-benar penuh. Aku yang lagi duduk menunggu keputusan, apakah kami akan mendapat tiket atau tidak untuk penerbangan berikut, tiba-tiba mendengar orang berbicara, "Kamu jual di harga berapa?Aku tadi jual di 800ribu." Weleh...weleh...ada apa ni? *gaya Benoe Boeloe*
Ga lama, Nana datang dan bilang bahwa semua penerbangan penuh. Diantara ke'pusing'annya, dia cerita kalo tadi ada yang nawarin tiket Garuda seharga 1 juta. Wow!
Jadi inget...sepanjang perjalanan kami di Singapur dan Thailand, ketika kami berada di Changi maupun Suvarnabhumi, kami tidak menyadari ada keganjilan di sana. Kami cek in seperti biasa, melakukan lapor sana lapor sini seperti biasa, dan tidak mengalami kejadian 'aneh'.
Sampe di Hang Nadim, waktu kami sedang bingung, tiba-tiba muncul rekaman kejadian di atas dan kemudian membandingkan dengan pengalaman kami di Changi dan Suvarnabhumi. *Cling* ternyata di sana tidak ada calo. Kok bisa ya?Padahal saat itu kami sama-sama mau berangkat menuju tempat tertentu. Memang siii tiket udah ada di tangan kami...tapi kami ga ditawarin lagi tiket tu...
Tiap tahun menjelang Lebaran, terutama, pastilah di TV muncul pemberitaan mengenai mudik menggunakan kereta api. Kemarin, diantara berita mengenai mudik itu, muncullah berita tentang seorang pemudik yang hendak menggunakan kereta, tetapi tiket sudah habis terjual. Lalu, belilah dia tiket ke calo. Tiket yang harganya 100rb, dihargai calo 180ribu, padahal dia beli 3 tiket. Lumayan tuh calo, dari 1 orang aja bisa dapet 240ribu...


Calo...calo...singkatan dari apa ya?Ato kenapa disebut calo untuk orang yang seperti itu?Biro Jasa misalnya perpanjangan SIM ato STNK kan calo juga sebenernya, tapi kenapa ga disebut seperti itu ya?Munculnya dari mana siii?Pikir-pikir...pinter juga ya calo itu, bisa memanfaatkan kelemahan orang lain....Hhhhmmm....

Ga Kerja (Lagi)

Yang sebelumnya itu sebenernya belum ada benang merahnya dan dah keburu di upload, hehehe...

Dari omong-omongan lewat SMS atau YM! itu, aku jadi mikir, kenapa orang selalu menghubungkan kerja dengan kantor?Terus terang, aku sendiri masih berpikir seperti itu untuk Nana. Kerja yaa ke kantor dan dapet duit tiap bulan. Aku belum ijinin dia untuk usaha sendiri seperti yang dia mau *egois emang*. Tapi buatku (dan Nana juga), sebetulnya kerja di rumah itu menyenangkan karena kita ya ga usah pake ongkos buat keluar dan rumah tetep dalam pengawasan. Tapi kenapa mindset selalu mengatakan "kerja ya di kantor yang nota bene bukan di rumah" ?Mungkin itu juga yang mengilhami orang-orang sehingga yang namanya di rumah itu sepertinya ga ada kerjaan. Sepertinya yaa... Padahal kalo mau, di rumah itu kalo ga mo diem ya apa aja bisa dikerjain. Beberes, ato masak, ato nonton, ato berkebun (pake pot kalo ga punya tanah), ato ngapain aja melakukan hobi.
Pengalamanku yang tadinya bekerja dan sekarang diem di rumah, memang kadang membosankan, apalagi kalo lagi mati lampu sementara masak dah beres dan batere note book dah minim, tapi orang bekerja juga sama tho?Kadang membosankan mengerjakan pekerjaan yang sama tiap hari.
Mungkin (seperti kataku -pembenaran-), malahan di rumah juga tidak membosankan. Aku tiap hari menunggu jam 2 atau 3 siang untuk menyalakan note book dan berbincang dengan teman-teman lewat YM!Atau cek email untuk mengetahui kabar orang-orang nun jauh di sana atau sekedar membaca pikiran orang-orang melalui tulisan-tulisannya...Atau melihat karya orang dari situs yang ada atau mencari informasi seperti waktu aku mo pergi ke Singapur & Bangkok kemaren.
Nah, seperti contoh yang aku kasih kemaren tentang Femmy & mamanya.... Ngerjain pekerjaan yang duitnya ga sedikit (ya ga Fem?). Tapi di rumah.
Jadi ga kerja bukan berarti ga ada kerjaan tho?Trus, kenapa ya orang-orang 'takut' untuk tidak bekerja?

Dan akhirnya....pertanyaan berubah, jadi apa tujuan kerja DI KANTOR? *makin bingung*

Ga Kerja

Gara-gara chatting kemaren yang ngomongin soal ga kerja, jadi kepikiran.
Ceritanya, aku pernah sms sama Wie Ling soal dia ntar ke depan gimana. Kalo dia punya anak ntar gimana, sapa yang asuh sementara mertuanya jauh di Jogja dan ortunya udah tua. Sementara kalo punya pengasuh dia agak takut juga...Aku ngajuin opsi "asuh sendiri dan ga kerja" Dia bilang dia akan bingung kalo ga kerja. Katanya kemaren ini aja dia cuti, pengennya jalan terus. Dia ga bisa ngebayangin aku yang tadinya kerja dan ga bisa diem, akhirnya sekarang ga kerja. Aku si bilang, kalo aku di rumah ya ngerjain pekerjaan rumah, nonton ato bikin apa kek yang aku senengin. Tapi kayaknya dia masih bingung.
Cerita lain tentang Mbak Mega yang sakit dan sekali sakit butuh waktu 2-3 bulan untuk sembuh. Aku sempet bilang "kenapa si ga istirahat aja di rumah?" Tapi Hotman bilang kalo Mbak Mega bakalan bosen di rumah. Soalnya kemaren ini aja dia di rumah aja ngerjain kerjaan kantor. Gitu katanya.
Aku jadi mikir....mungkin cuman sebuah pembenaran atas apa yang aku alami saat ini, dimana aku ga kerja, yang kadang-kadang juga membuat aku berpikir.... apa ga kerja artinya ga ada kerjaan?
Aku liat contohnya Femmy dan mamanya...Mamanya kalo ga salah ambil pensiun dini dan kemudian diem di rumah. Tapi mereka bukan ga ada kerjaan, malahan kerjaan mereka banyak kerjaan kok. Malahan kataku jadi asik, kerja di rumah. Kalo dah punya anak, bisa ngasuh anak sambil kerja. Anak ga keteteran tapi juga tetep kerja.
Kepikiran lagi....tujuan kerja itu apa si? *bingung*

Pay It Forward

Siang ini aku sempetin liat Oprah di Metro. Sambungan dari yang kemaren, dimana Oprah kasih semua penontonnya uang seribu dollar dari bank of America dan uang itu harus dipakai untuk menolong orang lain yang bukan anggota keluarganya. Hari ini, sambungan dari kemaren, dimana akhirnya Oprah nayangin hasil pemberiannya. Dari yang seribu dollar itu bisa jadi 60ribu. Ada yang bisa jadi 70ribu bahkan ada yang bisa sampe 200ribu. Ini terjadi karena mereka menolong sesama dan kemudian mereka menggerakkan hati orang lain untuk memberikan sedikit dari penghasilannya untuk bersama-sama menolong.

Yang paling berkesan buatku adalah ada seorang ibu yang kena tindak kejahatan dan diselamatkan oleh sebuah badan di Amrik sana, dan dia berhasil hidup. Padahal lukanya parah banget. Akhirnya, ditambah uangnya 1600 (jadi 2600US$), dia kasih uangnya itu untuk salah seorang korban luka tembak parah di bagian muka yang ada di badan negara yang nyelamatin dia dulu. Juga ketika seorang ibu yang kasih tiket untuk mereka yang jarang negok keluarganya yang sakit di Hawaii.

Yang kurang berkesan adalah orang yang membagikan uang pemberian Oprah itu gitu aja. Misal untuk tips yang gede (di tayangannya dia pesen pizza seharga 18US$ dikasih 200an US$) atau dikasih gitu aja ketika dia lagi isi bensin atau belanja.

Tapi apapun tindakan mereka, prinsip Pay It Forward itu yang mestinya kita pegang.

Jadi inget filmnya. Kalau kita dapet 1 kebaikan, kita mesti balas dengan 3 kebaikan. Wow...prinsip yang sederhana tapi bagus banget.

Wikipedia menerangkan...
Pay it forward or paying it forward refers to repaying the good deeds one has received by doing good things for other unrelated people.
Many people mistakenly believe the phrase "pay it forward" as a moral philosophy first appeared in Catherine Ryan Hyde's novel Pay It Forward, which in 2000 was adapted into a Warner Brothers film, Pay It Forward. Science fiction author Robert A. Heinlein, however, used the phrase in Between Planets, a book published in 1951, almost 50 years before Ryan Hyde's novel.
Heinlein both preached and practiced this philosophy; now the Heinlein Society, a humanitarian organization founded in his name, does so.
One of the most vocal popularizers of the concept of paying it forward -- before Hyde's book and movie -- is probably author Spider Robinson, who made repeated reference to the doctrine, attributing it to his spiritual mentor Heinlein.
In Ryan Hyde's book and movie it is described as an obligation to do three good deeds for others in repayment of a good deed that one receives. Such good deeds should be things that the other person cannot accomplish on their own. In this way, the need to help one another can spread exponentially through society, creating a social movement with the goal of making the world a better place.
In practice the philosophy of pay it forward has broadened relative to its literary roots, and now stands for a more general social responsibility and desire to help others in recognition of the help one has received for one's self. It is also sometimes described as being "good for a favor", meaning a willingness to help others (even strangers) on the expectation that it will all come back around in the end.
The idea of the book has been championed in real life by the Pay It Forward Foundation. The Foundation focuses on bringing the idea of paying it forward to school age children, parents, and educators. The simple idea of doing good works for others to repay the good that has happened to you is one that can easily be conveyed to children and encourages them to be socially aware and take a role in making the world a better place. The main character of the book was a 12-year-old child, thus giving other children someone they can relate to.
In October 2005, Syracuse University's Residence Hall Association began a Pay It Forward Campaign on campus. It spread on campus rapidly, and was noted for entering mainstream Syracuse society as a result. Many other schools have now begun campaigns such as this as well.
On October 26, 2006 Oprah gave her audience a challenge to Pay it Forward, giving 300 audience guests $1,000 USD on a debit card and a camcorder to record the acts of kindness they did. The rules of the challenge were very specific, the money had to be spent within one week and could only be used to help charitable organizations or an individual person but not a relative.
The idea of "paying it forward", but without the pyramid scheme-like exponential growth, appears already in a letter from Benjamin Franklin to Benjamin Webb, dated April 22, 1784.

Kalau aja tiap orang punya prinsip ini, apa ya jadinya dunia?

Bersyukur

Kemaren ujan seharian. Bete banget. Dari malem Minggu sampe hari Minggu jam 1 siang, hiks... Akhirnya kita cuman diem di rumah, padahal rencananya mo ke rumah mbak Heni, sepupuku. Tapi begitu jam 1 ujan selesei, kita berdua langsung ngacir. Tadinya ga akan ke rumah mbak Heni, soalnya aku dah SMS bilang jangan ditungguin, tapi ternyata waktu jalan-jalan kok ketemu jalan ke rumah mbak Heni, hehehe... Jadilah mampir. Di tempat mbak Heni cerita-cerita juga. Pas lagi cerita-cerita ujan lagi. Hiks...sedihnya... Sorenya abis pulang dari rumah mbak Heni, di jalan deket rumah, kita dah liat, mati lampu. Akhirnya sebelum sampe rumah kita ngacir ke Balikpapan Plaza sampe jam 9.

Waktu nunggu hujan, aku pikir...kalo orang pernah hidup (=tinggal) di Jawa dan kemudian dia pindah ke pulau lain, mestinya dia akan tau, seperti apa kondisi yang ada di luar Jawa. Kayak kita yang pernah tinggal di Banjarmasin. Kalo di berita, orang cuman tau ada asap yang tebel dan mungkin akan berpikir "untung bukan gue yang kena" itu kita alamin sendiri. Kalo orang antri bensin karena kekurangan pasokan, kita alamin sendiri. Belum lagi air yang mati, listrik yang parah banget. Waktu di Banjarmasin, 2 hari sekali listrik mati 4 jam, sekarang di Balikpapan, kota yang kata orang ibu kotanya Kalimantan, listrik mati 2 hari sekali selama 8-9 jam!
Inget banget, ketika gardu listrik di Jakarta meledak dan Jakarta mati lampu hanya 4-5 hari orang dah ribut banget, sementara di sini?2 hari sekali 8-9 jam!Belum lagi waktu ngobrol ma Budhis yang tinggal di Aceh, kondisinya sama aja ma disini. Kebayang ga si, gimana enaknya hidup di Jawa?Belum lagi kalo listriknya padam malem hari....Kalo ga ujan mending, bisa jalan ke Mall atau Plaza, kalo ujan?Huuuaaa.....

Karena itu, kalo orang yang tinggal di Jawa selalu mengeluh ini itu, sedih rasanya... Soalnya belum tau rasanya hidup berhadapan dengan asap di depan hidup dan sepanjang hari, belum tau rasanya antri di pom bensin nunggu bensin dateng, belum rasain ga ada aer sepanjang 3-4 hari, belum rasain padam listri 2 hari sekali 8-9 jam.... Come on...bersyukur karena ga pernah ngalamin yang kayak gini... Bersyukur tiap hari untuk semua yang udah disediain deh...Jangan cuman bisa ngeluh aje.

Booking

Kemaren ini aku liat di berita TransTV, di suatu daerah (lupa namanya) di hari pertama taun ajaran baru ada anak yang jam 4 pagi dah berangkat ke sekolah hanya untuk booking tempat duduk. Jam 4?Iya, jam 4 subuh!Wah hebat betul ya mereka...Semangat banget. Agak lucu juga dengan berita itu, karena mereka berkorban hanya untuk sebuah tempat duduk di depan.Jadi inget jaman dulu waktu sekolah...Jarang ada yang mau duduk di tempat paling depan.Ga tau deh alesannya apa. Kalo aku, ga suka duduk di depan, apalagi depan meja guru karena aku takut apa yang aku kerjakan keliatan sama guru. Kalo dipikir-pikir, sebenernya...emang aku ngerjain apa si, sampe segitu takutnya ya?hehehe...Tapi pernah suatu ketika waktu aku kelas 6 SD, aku duduk paling depan. Cara pegang bolpen atau pinsilku memang ga seperti anak-anak lain pada umumnya. Dan ternyata guruku liat caraku pegang bolpen itu. Trus dia marah. Dia suruh aku pegang bolpen seperti orang-orang pada umumnya. Aku ga bisa-bisa dan dia tetep nyuruh aku. Aku berusaha dengan sekuatku untuk pegang bolpen seperti dia. Sampe aku nangis aku ga bisa. Akhirnya kalau di depan dia aku pegang bolpen seperti dia, tapi begitu bukan pelajarannya, aku kembali seperti semula. Soalnya susah banget pegang bolpen seperti yang dia mau. Bikin aku lambat nulis. Ga nyaman banget.
Booking yang laen yang selalu dan tiap taun orang lakuin juga ketika misa Natal dan Paskah. Waduh itu...Kalo ga 2 jam sebelum misa dateng, pasti dah ga kebagian tempat duduk. Tapi kalo dateng 2 jam sebelum misa, ngantuk lah pas misa. Simalakama... :-pMakanya mending jadi petugas deh kalo hari besar gitu, jadi lektor kek, misdinar, koor, ato prdiakon pasti dapet tempat duduk, hehehe....Tapi pengalaman Paskah di Banjarmasin kemaren ga gitu-gitu amat. Padahal di Katedral, dengan jadwal misa cuma sekali atau 2 kali aja. Cukup dateng setengah jam sebelumnya, masih kosong. Enak kan?Nunggu misanya ga terlalu lama, jadi ga ngantuk.
Ngomongin booking yang laen lagi adalah tiket. Karena sekarang aku tinggal di Kalimantan, jadi kalo mo pulang, ga bisa pake bis ato mobil. Bisa si, tapi lama kali yeee...abis waktu di jalan. Belum nyebrang pake kapal, trus dari pelabuhan ke Bandung?Ah lama lah kalo pake darat dan laut. Jalan paling cepet ya pake udara. Tapi kalo dadakan, jatohnya harga tiket bisa mahal banget, jadi kudu booking dulu dah tiketnya paling lambat 2 minggu sebelomnya biar ga terlalu mahal dapetnya. Udah gitu di-issued, dapet deh tiket pesawatnya. Tinggal terbang, naek bis 2-4 jam, nyampe Bandung deh...Ketemu Kiki, David, Ibu, Anto, ah semua deh..Senengnya...
Jadi, ngomongin soal booking, ternyata kalo kita booking sesuatu tuh butuh pengorbanan. Paling gampang adalah waktu. Masuk jam 7 kok dateng jam 4?Misa jam 6 kok dateng jam 4?Trus 2-3 jam itu dipake buat apa ya biar ga kebuang percuma?Bisa baca, tidur, maen game (eh ga mungkin kali yee...masa sekolah bawa game?ke gereja juga), ato ngapain aja deh...Bisa diatur...Trus juga booking butuh uang ekstra. Kalo booking tiket berasa banget kan?Hari ini booking, issued-nya paling lambat 3 hari, berarti uang mesti siap di situ. Kalo sekolah atau ke gereja, taunya pas 2-3 jam itu laper, jajan deh...Uang juga keluar.Wah ternyata booking butuh pengorbanan ya?Belom lagi kudu sabar. Kan 2-3 jam itu bukan waktu yang sebentar, kalo ambek-ambekan, ntar disangka ga waras, repot...repot...hehehe....Disitu bisa ngelatih kesabaran. Jadi, buat yang ga sabar, bisa latian pake booking tuh, hehehe....Ternyata, kenyamanan itu butuh pengorbanan ya?

Motor dan Perda

Kemaren ini aku liat di tv (Trans7, Selamat Pagi, kalo ga salah) tentang Perda penggunaan helm bagi anak dan aturan tentang penumpang sepeda motor yang cuma boleh 2 orang.
AKu pikir-pikir sebagai pengguna motor....
Pertama, kayaknya perda yang katanya dimulai 1 mei itu kayaknya belum ada sosialisasinya ya, makanya banyak yang kedapetan anak yang numpang belum dipakein helm.
Kedua, mungkin maksud pemerintah Jakarta bener tentang keselamatan itu penggunaan helm dan penumpang itu.
Ketiga, dipikiran ga ya tentang kondisi ekonomi masyarakat sekarang? Maksudnya gini, kalo yang di motor cuman boleh 2 orang, kalo sekarang orang belum bisa beli mobil, mampunya beli motor, kalo dah punya 1 anak aja, gimana ya kalo mo pergi bareng-bareng di hari libur?Bapak ma anak pake motor, ibu pake angkutan umum, atau Bapak ma ibu pake motor, anak naek angkutan (ga mungkin kali yee...), atau Ibu ma anak pake motor, bapak pake angkutan?Ga efisien kali ya?Atau semua pake angkutan umum?Apa itu ya tujuan pemerintah Jakarta?Pake angkutan umum, seperti di tv juga, mimpinya Sutiyoso dimana ada monorel, ada angkutan sungai itu, busway lancar, dll, dll.
Keempat, katanya negara akan maju kalo banyak kredit. Padahal kredit motor lebih terjangkau dibanding dengan kredit mobil tho?Sehingga kalo orang yang kredit motor banyak berarti kan membantu perekonomian negara.
Kelima, kalo frustrasi, mending anak ato mobil?Ada anak ga bisa bareng naek motor, tapi beli mobil ga punya duit. Hmm....
Padahal naek motor kan lebih efisien dari segi perekonomian (bensin lebih irit sehingga uang belanja bisa ditabung) dan segi waktu (karena ada waktu ada uang, hehehe).

Pernikahan

Mungkin karena selebriti, makanya berita apapun jadi keliatan ya?Termasuk soal kawin-cerai. Rasanya kok makin banyak aja ya yang cerai, padahal mungkin aja dulu mereka bilang pasangannya adalah soulmate-nya. Jadi mikir, apa si yang disebut soulmate itu?Kenapa kalo emang mereka bilang soulmate akhirnya malah cerai?Ga kepikir...Buatku, yang namanya pernikahan bukan sesuatu yang main-main, coba-coba. Dicoba dulu, kalau ga cocok ya cari yang lain yang bisa cocok. Bukan itu. Tapi suatu yang sakral, sehingga ketika kita nyiapin pun panjang, dari proses pacaran, lamaran, tunangan, sampe jadi satu. Dalam proses pacaran emang bener yang orang-orang bilang, bahwa pacaran ma kalo dah nikah itu beda, bener banget, tapi dalam proses itu kita bisa liat sedikit pasangan kita, seenggaknya hal-hal yang prinsip bisa keliatan, walopun ga seutuhnya. Yang tiap hari ketemu sama yang LDR alias PJJ alias Pacaran Jarak Jauh mungkin beda pengenalannya. Tapi yang namanya kenalan dan kenal dan semakin mengenal bisa dilakukan dengan cara apapun. HP, internet, surat (jaman buhul pisan), dll bisa dipake untuk pengenalan itu. Proses lamaran, melamar, meminta adalah sesuatu yang udah lebih jauh. Buatku lamaran adalah hal yang mulai serius yang akan dipakai untuk melangkah lebih lanjut. Dan buatku juga, sebaiknya hal ini dipake kalo emang dah yakin. Emang kesannya jadi formalitas, tapi formalitas yang serius. Apalagi tunangan. Hal ini dah ngelibatin keluarga. Artinya, apa yang kita jalanin udah bener-bener serius. Ibarat masuk rumah, udah sampe pintu dan mengetuk dan dibukakan cuman belum bisa masuk.Nah ketika kita masuk, buatku, rumah adalah suatu pernikahan. Mungkin bukan rumah yang tertata rapi tapi mungkin lebih ke arah hutan. Makanya aku selalu bilang "Welcome to the jungle" untuk mereka yang masuk suatu pernikahan. Di dalem hutan, gelap, kita ga tau pasangan kita kayak apa, kita ga tau pernikahan kita akan seperti apa. Kadang ada cahaya yang mungkin berarti kebahagiaan, kadang ga ada juga cahaya da udah malem yang mungkin berarti ketidakbahagiaan, saat marah, saat sedih dengan pasangan. Tapi ga selamanya gelap dan ga selamanya dalam hutan itu terang. Pernikahan melibatkan terutama 2 orang dan ga terutama banyak orang (keluarga, saudara, teman) dan dalam terlibatnya 2 orang yang kita ga tau ini (walopun udah pacaran lama) kita akan menyesuaikan diri satu sama lain. Menurutku si, hal-hal yang prinsip banget mestinya udah diomongin ketika pacaran atau minimal saat tunangan menjelang nikah. Jadi kita ga perlu lagi nyesuein diri dengan hal-hal prinsip itu. Hmm...kalo dipikir-pikir, apa si yang sangat prinsip?Agama?Keyakinan?Ato apa ya? *Bingung*Selain soal prinsip, ketika kita masuk dunia pernikahan, pasti ada sesuatu yang berbeda. Bukan soal kewajiban, hak, atau apa yang disebut kebebasan jadi terbelenggu. Ini setidaknya menurutku. Karena pengalamanku, kebebasanku ga terbelenggu karena aku bisa melakukan apapun seperti waktu aku belum menikah, Aa ga ngalangin. Tapi aku sendiri kadang ga enak untuk melakukan semua kebebasan itu. Contoh, aku sebetulnya masih boleh ikut paduan suara di gereja dan aku emang pengen banget, tapi aku pikir, aku pengen ikut, tapi aku ga mau kehilangan moment bersama Aa malem-malem, apalagi antara rumah dan gereja lumayan jauh, hampir 10km. Aku bisa pergi-pulang sendiri, tapi kalo Aa khawatir?Kalo anter-jemput, mungkin Aa dah cape. Aku pikir, akhirnya bukan suatu pengorbanan bahwa akhirnya aku ga jadi ikut paduan suara, tapi lebih karena kompromi dalam diriku. Contoh lain, aku bisa tetep ke warnet untuk waktu yang panjang tiap hari. Tapi aku ga lakuin itu, karena kalo tiap hari, aku bisa tekor pertama. Kedua, rumah bisa berantakan dong...Emang Aa ga larang, Aa mau aja tiap hari makan di luar, tapi pengeluaran kan jadi double, ya makan di luar, ya bayar warnet. Belum lagi rumah yang ga disapu, dipel, cucian numpuk, kan jadi ga enak apalagi kita tinggal di situ. Buatku ini bukan pengorbanan, bukan juga kewajiban untuk membersihkan rumah atau masak, tapi lebih karena sense of belonging terhadap rumah dan keuangan yang dipercayakan Aa padaku. Makanya aku suka bingung, kenapa ada orang yang merasa ketika masuk dalam dunia pernikahan, kebebasannya akan erbelenggu.Heeeiii...emang masuk penjara?Bukan penjara say, tapi hutan, hehehe....

Uang

Kemaren ini aku sempet ditanya ma Hotman tentang arsitek yang bisa gambarin rumahnya buat proses IMB. Aku SMS ma Hotman dan Victor untuk ini. Panjaaaannnngggg banget. Untung aja ada SMS gratis, hehehe...Posisinya : Hotman sebagai pemilik rumah dan Victor sebagai arsitek. Aku tanya budget untuk bangun rumah berapa, supaya aku bisa bilang ma Victor ini bugdetnya, masuk ga. Menurutku, sekarang ngomongin budget bukan hal yang tabu lagi, soalnya daripada nutupin dan pusing, mending buka-bukaan dong...biar bisa diatur juga. Dari Victor aku tanya juga pricing dia berapa, biar tau dan bisa dipikirin. Akhirnya dari 2 orang itu keluar angka. Misal dari Hotman keluar X jt dan dari Victor keluar Y jt. Aku SMS Victor bahwa Hotman punya bugdet (X-10) jt dan aku bilang sama Hotman bahwa pricing Victor (Y+5) jt. Keluarnya (-10) dan (+5) ini ada maksudnya, yaitu supaya kalo ada peningkatan Hotman bisa saving 10 juta dan kalo Hotman mau nawar Victor, Victor ga rugi-rugi amat. Sama dua-duanya aku kasih tau tentang harga yang aku buat. Aku ga punya pemikiran untuk ambil keuntungan dari keduanya. Pikirku ngapain?Itu kan temen sendiri. Victor ga nanya apa-apa tentang apa yang aku kasih, tapi Hotman, di SMS dia nulis "...koq dikurangin 10jt, heee..." Hmm...aku agak tersinggung, trus aku bilangin aja kalo 10jt itu untuk saving, soalnya kan bikin rumah itu ga kayak beli baju dengan harga fix. Aku pikir, kalo aku mo ambil keuntungan, ngapain juga aku kasih tau ke mereka?Kalo aku mo ambil keuntungan sih aku akan diem-diem aja dan bilang (baca: minta) sama pihak yang bersangkutan. Asli enggak!Soal uang ini, aku inget juga sama kejadian waktu di Andamari dulu. Dulu, aku dipercaya untuk pegang uang di Andamari. Mula-mula uang aku taro di kantor, tapi ternyata sering ilang. Padahal kunci ada di aku dan ibu. Ketauannya karena si pencuri oon karena dia ninggalin tulisan jumlah uang yang biasanya aku taro. Jadi jumlahnya dia ganti sama tulisan dia. Dengan kejadian ini akhirnya aku bawa uangnya, tapi aku takut juga soalnya ga pernah-pernah bawa uang sebanyak itu (sekitar 1-2 juta). Kalo jatoh kan parah. Akhirnya aku masukin ke rekeningku, dengan pemikiran : kalo buka rekening baru repot, belum lagi uang administrasi yang akan lebih gede daripada bunganya. Aku kan punya catetannya, jadi aku tau jumlah uang itu sekalipun ada di rekeningku. Aku ga pernah itung administrasi dan bunganya. Suatu ketika hal ini ditanyain ma ibu. Ga tau deh, kadang ibu juga suka gatel pengen ambil uang itu untuk belanja ato apa kek... Akhirnya aku kasih tau dan dia tanya bunganya dan dia juga tanya apa bunga itu masuk dalam rekeningku. AKu BT, Bener-bener Tersinggung. Ya ampun...uang 2 juta itu bunganya berapa si?Sama administrasinya apa ketutup?Kalo 2M ya iya, aku juga ga akan jadiin satu ma uangku, syerem...Akhirnya aku bukain rekening di NISP atas namaku, tapi uangnya dah terpisah. Saking keselnya aku itu aja bunga dan administrasinya waktu pemisahan itu. Dan ternyata emang bunganya ga nyampe 5rb karena administrasinya aku share juga. Dan biar enak aku tambahin jadiin pas kelipatan 10rb. Aku sebel banget. Ternyata dengan ini pun masih bermasalah. Pengennya atas nama berdua, tapi ibu dengan kesibukannya ga sempet-sempet buka rekening bareng. AKu kesel akhirnya aku kasih aja ATMnya ke ibu dan aku pegang bukunya. Dengan kejadian ini, aku sedih banget. Kok orang-orang seolah ga percaya ya ma aku?Aku ga pernah kepikir untuk ambil duit orang. Buatku, duit cuman alat, tapi kepercayaan?Ga bisa dibeli. Kenapa orang-orang berpikir aku akan ambil duitnya?Dengan keadaan sekarang aku cukup kok. Kalopun kemaren aku jual kue bukan untuk cari duit, tapi supaya aku agak sibuk dan ga kesepian aja. Malah aku berpikir untuk bantu orang kok...Dengan jualan kue aku pengen bantu setidaknya 2 orang. Ga masalah aku ga untung, tapi dengan bantu orang aku akan seneng. Bukan aku ga butuh duit, tapi sekali lagi, duit itu adalah alat. ALAT. Alat buat kita bisa dapetin makanan, baju, air, rumah, dll. Aku sedddiiiihhh....asli sedih banget dengan kejadian ini karena masalahnya ada KEPERCAYAAN. Sesuatu yang buatku sangat penting.

Mengasuh

Kemaren ini waktu kita berdua nonton Oprah tentang Nate yang punya anjing yang 'bandel' kita jadi belajar, bahwa ternyata anjing itu butuh untuk menunjukkan diri. Kalo kitanya mau menunjukkan diri juga, maka dia jadi lebih 'ganas'. Karena itu kita mesti tenang. Trus aku juga nonton Back to Beck tentang hipnotis pada suami. Salah satunya ngomongin tentang lagu untuk anak sebelum tidur. Makanya sebetulnya kita bisa bentuk anak dari situ.Kalo digabungin kedua tayangan itu, kalo kita mo ngasuh anak, anak kudu dikasih secure dulu, trus juga kita bisa bentuk dia melalui 'hipnotis' itu kali ya...Jadi nyanyian sebelum tidur itu penting, biar meresap dalam otak anak dan anak bisa dibentuk dengan baik. Hehehe...Trus kita ngebandingin Salsa ma Galang, anaknya mbak Wemmy & mas Anto. Salsa anaknya ga terlalu ngerepotin. Kalau dikasih tau bisa dan ga rewel. Sementara Galang anaknya lebih jail dan agak susah. Kita pikir, mungkin karena waktu hamil nya mbak Irda dan Wahyu lebih memberi ketenangan. Jadinya Salsa bisa tenang juga, sementara katanya waktu hamil Galang, Mbak Wemmy sama mas Anto suka ribut yang rame gitu, makanya Galang jadi lebih sulit. Mungkin yaaa....Trus aku pikir, dengan kondisi emosi ku seperti ini mungkin ga ya aku kasih ketenangan saat aku hamil ntar?Aku kan emosinya wuuuiiiihhh...naik turun...kalo Aa lebih tenang. Kalo gitu, bisa ga ya Aa yang hamil?hihihihihihiiii.....

Anak

Baru aja aku denger di Insert siang tentang Hughes yang ditanya soal anak. Katanya, "Kalo dikasih ya syukur, kalo ga dikasih ya ga usaha..." Mereka enjoy dengan kehidupan mereka, mereka seneng travelling. Rasanya pengen juga kayak gitu, tapi sepertinya agak susah karena salah satu tujuan menikah kan 'berkembang biak dan bertambah banyak'... Ga tau kenapa aku ga terlalu pengen punya anak. Aku seneng maen, seneng jalan-jalan. Mungkin karena kesenengan itu dan ga pengen repot yang menyebabkan aku ga pengen ya?Jahat emang kalo alesannya itu?Ato karena aku emang pengen enaknya aja?Soal enaknya ini, aku pernah marah banget gara-gara Hotman tidak sepaham denganku tentang anak ini. Dia emang pengen punya anak cepet-cepet, sementara aku kan enggak. Trus dia bilang "Jangan mau enaknya aja dong..." Hal ini sebenernya berhubungan dengan ML. Tapi, enak?Sapa yang enak, lu apa cewe?Karena kalo untuk cewe ML itu menurutku kadang ga selalu mengenakkan. Contoh, istri ga mau, tapi suami lagi mau pake merajuk pula, buat istri yang melayani kan ga dengan sepenuh hati (baca : lagi ga mood). Apa iya, hal itu jadi enak? Belum lagi awal kehamilan kalo istri mual-mual hebat?Jadi, yang enak siapa?Bete!!!Tapi kalo dengan alesan ga mau repot ya emang artinya emang pengen enaknya aja. Yah mungkin begitu ya?Salah ya alesanku?Buatku, aku lebih pengen bantu ponakan ato anak kurang mampu atau bantu rumah sakit ato apa pun itu yang ngurus soal anak, tapi kalo dipikir, ntar kita tua sapa yang urus, ya bener juga. Plus lagi tujuan menikah itu. Hmm....Aku pernah stress ni gara-gara ini. Haid ku terlambat 2 minggu. Semua orang udah seneng aja, tapi aku malah takut dan ga terima. Itu yang aku rasain. Tapi emang ternyata aku belum dikasih. Terima kasih ato keterlaluan?

Guru

Wah senengnya liat acara Back to Beck hari ini. Tentang GURU. Tamunya Susan Bachtiar, David Chalik, ama Butet Manurung. Wow!!! Susan yang cerita tentang pengalamannya jadi guru, David yang cerita tentang pengalamannya punya sekolah, dan Butet yang cerita tentang pengalamannya mengajar di Suku. Aku jadi inget tentang guru ini. Salah satu persyaratan jadi guru adalah dapet sertifikat apa lah itu, kelayakan mengajar ato apa ga ngerti, pokoknya syaratnya itu aja. Kalo dipikir-pikir, apa iya ya guru yang punya surat itu bener-bener punya hati untuk membuat orang lain tau sesuatu?Apa orang yang emang pengen buat orang lain tau sesuatu tanpa pake surat itu jadi ga bisa?Kenapa syarat itu jadi menghambat ya?Padahal kalo liat David dan Butet, hebat banget niat mereka...Ketulusan untuk buat orang lain lebih tau mengenai sesuatu....Belum lagi liat tontotan Transtv tentang guru yang jadi tukang ojek & bahkan jadi waria. Waduh...sedih rasanya...Mereka yang bikin pejabat negara ini pinter, tapi mereka kurang dihargai..Tapi dibalik itu, kalo liat tayangan lain...ada guru yang melakukan pelecehan seksual terhadap murid. Sampe deny dengan pers-conference segala bo! Ada juga yang ngelempar murid sampe muridnya meninggal. Ow!Hmm....bingung, dari sisi mana kita mesti liatnya?

Ada dimana ya?

Gara-gara ditegur suster waktu kawinan Didi kemaren, aku jadi bertanya yang ga perlu sebenernya karena aku mungkin dah tau jawabannya...Pertanyaannya adalah "Tuhan ada dimana si sebenernya?" karena waktu ditegur itu, susternya bilang kalo kapel adalah tempat berdoa, ada Tuhan di Tabernakel (tempat hosti yang ada di depan, ditutup pake pintu yang tebel dan biasanya pintunya warnanya emas). Apa Tuhan cuma ada di tabernakel ya?Ketika kita ribut (bukan berantem yaa...), apakah tidak ada Tuhan disana?Ya..mungkin ini cuman pembenaran, tapi dengan pernyataan itu, kadang suka mempertanyakan juga...walopun aku dah tau jawabannya dan aku yakin bahwa Tuhan ada dimana-mana.

Perbedaan

Ternyata penampilan bisa dijadiin alasan untuk 'ribut' kalo kita emang mau ribut. Tapi bisa juga bukan alesan untuk 'ribut' walopun tau ada yang ga sreg aja. Tapi apa ga sreg menurut kita bisa juga jadi ga sreg buat orang lain?Apa orang lain harus punya pendapat sama dengan kita?Suatu hari saya nonton Dorce Show yang membicarakan tentang orang-orang yang selamat dari kecelakaan yang mengerikan. Salah satunya seorang pramugari Lion Air yang selamat dan bukan beragama sama dengan Dorce. Beberapa kali Dorce bilang 'walaupun dia tidak seiman dengan kita...' Lha ini yang dibicarain apa si?Yang selamat yang seiman ato yang selamat aja?Kalo emang yang selamat aja, kayaknya ga perlu kali ya Dorce bilang itu beberapa kali...Episode yang lain tentang saudara, kaka-beradik. Datanglah bintang tamu Oscar & Mario Lawalata. Dengan Oscar yang hai-hai begitu (menurut kita), Dorce ternyata memang 'mempermasalahkannya' dengan bertanya beberapa kali pada Mario apakah Mario tidak merasa gimana dengan Oscar yang seperti itu. Mario udah bilang sejak awal, Oscar adalah kakaknya dan dia tidak melihat perbedaan itu. Jadi, ngapain Dorce nanya berulang kali?Aneh...kenapa si yang namanya perbedaan yang seringkali diliat orang dan tidak dirasakan oleh orang yang ngalamin ato orang terdekat sering dijadiin alesan untuk ditanyain, diributin...Kenapa orang ga bisa terima perbedaan itu sebagai suatu keindahan, sebagai suatu variasi...