Tuesday, April 8, 2008
Apakah aku adalah ... ?
Beberapa kejadian membuat aku berpikir seperti ini. Bukan sombong, tapi aku senang kalau memang aku bisa jadi anugrah untuknya. Ceritanya berawal dari waktu pacaran dulu. Aku ingat sekali waktu calon suamiku dulu berjanji "aku akan nikahi kamu kalau aku naik pangkat" dan ternyata tidak lama kemudian, dia betul-betul naik pangkat!Hahaha...kutertawakan dia waktu dia berkata "Aku pusing, aku naik pangkat". Kuganggu saja dia dengan berkata "Pusing karena harus menikahiku ya?" Bukan ingin segera dinikahi, namun rasanya apa yang dia inginkan terjadi. Setelah beberapa lama tidak naik pangkat, akhirnya keinginannya terkabul. Kebetulan, aku sudah ada bersamanya. Kejadian itu tidak sampai disitu, setelah ada aku ternyata karirnya lumayan terlihat dengan beberapa kali naik pangkat. Hmm...mungkin bukan karena aku sebetulnya, tetapi karena kerja kerasnya karena harus bertanggung jawab dengan adanya aku. Tapi aku ternyata seringkali berpikir bahwa akulah sumber keberhasilannya, hahahahaha....
Kalaupun iya, terima kasih ya Tuhan...semoga aku bukan hanya anugrah buat suamiku, tetapi buat orang disekitarku.... Dan jangan jadikan aku sombong karena pemikiranku. Ingatkan aku...
Bajak-Membajak
Ayat-Ayat Cinta dibajak!!
Waaahhh...serunya berita ini di infoteinmen...Sampe-sampe produsernya protes ke DPR dan minta supaya pembajaknya ditangkep. Buseeettt....Paak...Pak...apa ga tau resiko bikin film atau lagu-lagu di CD? Ya dibajak....
Udah gitu, yang lucu ada salah seorang pemeran antagonis dalam film itu (susah nulis namanya), ngomong di tv dengan kesal kalau dia menyayangkan film AAC yang dibintanginya dibajak. Katanya...ga papa lah film Hollywood dibajak, yang penting jangan film Indonesia yang dibajak.
Yeeee.....egois...
Berita 2 :
Dewi Persik dicekal di Tangerang.
Warga yang marah kemudian men-sweeping (halaaahhh...bahasanya....) CD & VCD yang mengandung unsur Dewi Persik. Lhaaa....yang di-sweeping kok pedagang CD, DVD & VCD bajakan dan trus dirusak dan dibakar. Kenapa juga bukan yang asli kalo serius? Ini sweeping yang bajakan apa gimana?
Positifnya : Dewi Persik dibantu sweeping CD, VCD, DVD bajakannya dong....
Gimana si? Bingung..
Kembalian
Belum lagi di PLN sini....Balikpapan. PLN Balikpapan...Kalo bayar listrik...kita kasihin pembayaran yang bulan kemaren, trus sama dia di-print trus nyebutin dengan jumlah kelipatan 1000. Terus...kalo kita dah bayar, dia kembaliinnya sesuai dengan yang dia sebutin walopun jumlahnya ga segitu. Misal...di rekeningnya tertulis 47745 rp, kita bayar 50rb, dia kembaliin 2rb. Bayangin kalo hari itu yang bayar 50 orang. Kelebihannya misal 200, sehari 10rb..padahal listrik dibayar sampe tanggal 20. Lumayan tuh...
Pernah juga kejadian di parkiran BC. Balikpapan Center...Balikpapan lagi... Parkir motor 2 jam pertama 500 perak. Kalo kita bayar pake uang 1000 ga dikembaliin!!!
Jadi inget...waktu Nana jadi teller, uang itu mesti pas, ga boleh ada lebih ga boleh kurang. Ga boleh ada selisih intinya. Kalo ada selisih, dia didenda. Coba kalo supermarket atau apapun deh yang pake kembalian ada kayak gitu...kan enak...semua balance...
Tapi anehnya...si pengusaha ini, yang masalah ini dah masuk tivi, koran, ya ga digubris...walopun dengan tujuan perang harga, tapi siapin dong solusinya....
Sebel...sebel..sebel...Ga ada solusi....
Monday, April 7, 2008
Sampah
Aku ikut seminar tentang sampah untuk dijadiin kompos, aku liat TV tentang pemanfaatan sampah, ah pokoknya tentang sampah deh, hehe...
Kalo dipikir-pikir...mestinya sekarang timbunan sampah itu bisa dikurangi lhooo...lha, sampah organik bisa dijadiin kompos, sampah plastik bekas bungkus detergen dll bisa dijadiin barang lain, botol bisa dijadiin souvenir atau dihias dijadiin hadiah, botol plastik bisa dijual lagi ke produsennya atau dijadiin mainan, tapi kenapa ya sampah masih aja numpuk?
Pengalaman kemaren ini seminar tentang pembuatan kompos, sebetulnya kita bisa bikin kompos sendiri secara sederhana. Dengan metode keranjang Takakura atau dengan bantuan urea. Malahan kalau dalam jumlah besar, kompos bisa dijual. Caranya cuma kita tinggal misahin sampah organik dan nonorganik aja. Yang organik, diolah jadi kompos. Nah...yang nonorganik bisa dikumpulin dan dijadiin barang lain. Liat di TV, ada yang dijadiin tas, tempat sampah, payung, dlsb.
Sampaaaaahhh....oooohhhh....sampaaahhh....
*dilanjutin besoksoalnyalagigakonsennijadingacobahasanya*
Lagu
"oo kamu ketauan...pacaran lagi...dengan dirinya...teman baikku..."
Lagu-lagu ini kemaren dinyanyiin waktu tetanggaku kawinan. Rasanya lucu aja, lagu kawinan kan biasanya yang romantis ato gimanaaaa...tapi ini kok lagu patah hati. Sebetulnya bukan cuma 2 lagu itu aja, tapi ada beberapa lagu lain tentang patah hati yang dinyanyiin. Aku berasa aneh aja....Masa di kawinan lagunya kayak gitu?Kawinan kan bersatunya 2 manusia dengan segala perasaan cinta dan sayangnya, tapi kalo lagu yang dinyanyiin kayak gitu jadi gimana ya?....... berasa aneh aja siii.....
Salah Satu Kegundahan
Saya adalah salah satu peserta dari Seminar Hukum Kanonik di Balikpapan kemarin.Saya kemarin sebetulnya ingin bertanya, namun saya pikir ini adalah persoalan pribadi dan mungkin membuat tertawa orang yang mendengarnya atau pastor yang menjawabnya, hehehe...
Gini Pastor,Saya termasuk anak nekat dan termasuk berapa persen dari orang-orang di Jawa yaa...yang ga nikah dengan orang Katolik lagi. Saya sudah 1 tahun lebih menikah beda gereja dengan seorang laki-laki (ya pastinya....soalnya dah dicek dan tulen kok :p). Sebelum menikah, saya sempat eyel-eyelan sama ibu saya mengenai ini. Ibu saya 'memaksa' supaya calon suami saya (waktu itu) menjadi Katolik seperti amanat Bapak saya. Saya tidak mau, karena buat saya dan suami, kalaupun harus pindah bukan karena seseorang, tetapi memang panggilannya untuk mengikuti Tuhan dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Saya juga sempat berkonsultasi dengan seorang pastor mengenai hal ini, namun pastor menyerahkan semua keputusannya pada saya.Akhirnya kami menikah di gereja Katolik dan seneeeeeengggg banget rasanya ketika tau bahwa apa yang kami jalani merupakan pernikahan yang sah dan merupakan sakramen =)
Buat kami berdua yang saat ini belum mempunyai keturunan, rasanya sampai saat ini tidak ada masalah mengenai hal itu. Saya dibiarkan oleh suami saya berkembang dalam kegiatan di lingkungan. Tidak ada halangan sama sekali dari dia. Demikian pula saya, membiarkannya kalau dia mengikuti kegiatan di gerejanya. Namun, belakangan ini saya merasa bahwa orang di lingkungan saya bermasalah dengan keadaan saya. Pernah suatu ketika, saat latihan koor orang lingkungan bertanya mengenai suami saya. Ketika beliau tau bahwa suami saya seorang Kristen Protestan (Gereja daerah seperti GKJ), beliau menyuruh saya untuk membawa suami saya menjadi warga Gereja Katolik.
Dan kemarin ini, sewaktu istirahat siang, ibu-ibu lingkungan mengatakan hal yang sama, mengajak suami saya menjadi warga Gereja katolik. Sebelumnya, ketika saya ditawari 'tiket' untuk seminar ini oleh ketua lingkungan, saya masih mikir-mikir, namun akhirnya saya ikut juga setelah mendaftar di gereja dan bukan di lingkungan. Saya juga menawarkan pada suami saya, tapi mungkin karena belum sreg, dia ga mau. Saya tidak memaksa. Dan ketika saya berbincang dengan ibu-ibu ini, seolah-olah, mereka menyuruh saya untuk ikut karena perbedaan yang ada pada keluarga kami. Yaaaa mungkin ini hanya perasaan saya...mudah-mudahan....tetapi terus terang saya menjadi tidak nyaman dengan keadaan ini. Satu sisi saya ingin sekali aktif, sisi lain saya menjadi malas karena omongan-omongan itu.
Lain lagi dengan teman saya yang membawa 1 Petru 3:1 sebagai anjuran agar saya ikut suami.Semakin bingung lah saya....
Bagaimana saya harus menyikapinya Pastor?
Pikiran saya : mudah-mudahan dengan saya rajin di lingkungan, hati suami saya tergerak dan pindah...tapi kalau keadaan seperti ini, jadi malas juga ikut-ikut, hehehe....
Calo
Waktu mau pergi ke Jakarta untuk liburan kemarin, begitu mau masuk Bandara Sepinggan, banyak orang bertanya, apakah kami sudah punya tiket atau belum. Karena perjalanan kami sudah terjadwal, semua tiket sudah ada di tangan.
Cerita pengalaman kami waktu ketinggalan pesawat di Batam kemaren ini.Aku yang duduk di dalem, sementara Nana mencari tiket di luar, memperhatikan kesibukan Bandara Hang Nadim saat weekend (hari itu hari Jumat), dimana orang banyak yang ingin pulang sehingga Bandara benar-benar penuh. Aku yang lagi duduk menunggu keputusan, apakah kami akan mendapat tiket atau tidak untuk penerbangan berikut, tiba-tiba mendengar orang berbicara, "Kamu jual di harga berapa?Aku tadi jual di 800ribu." Weleh...weleh...ada apa ni? *gaya Benoe Boeloe*
Ga lama, Nana datang dan bilang bahwa semua penerbangan penuh. Diantara ke'pusing'annya, dia cerita kalo tadi ada yang nawarin tiket Garuda seharga 1 juta. Wow!
Jadi inget...sepanjang perjalanan kami di Singapur dan Thailand, ketika kami berada di Changi maupun Suvarnabhumi, kami tidak menyadari ada keganjilan di sana. Kami cek in seperti biasa, melakukan lapor sana lapor sini seperti biasa, dan tidak mengalami kejadian 'aneh'.
Sampe di Hang Nadim, waktu kami sedang bingung, tiba-tiba muncul rekaman kejadian di atas dan kemudian membandingkan dengan pengalaman kami di Changi dan Suvarnabhumi. *Cling* ternyata di sana tidak ada calo. Kok bisa ya?Padahal saat itu kami sama-sama mau berangkat menuju tempat tertentu. Memang siii tiket udah ada di tangan kami...tapi kami ga ditawarin lagi tiket tu...
Tiap tahun menjelang Lebaran, terutama, pastilah di TV muncul pemberitaan mengenai mudik menggunakan kereta api. Kemarin, diantara berita mengenai mudik itu, muncullah berita tentang seorang pemudik yang hendak menggunakan kereta, tetapi tiket sudah habis terjual. Lalu, belilah dia tiket ke calo. Tiket yang harganya 100rb, dihargai calo 180ribu, padahal dia beli 3 tiket. Lumayan tuh calo, dari 1 orang aja bisa dapet 240ribu...
Calo...calo...singkatan dari apa ya?Ato kenapa disebut calo untuk orang yang seperti itu?Biro Jasa misalnya perpanjangan SIM ato STNK kan calo juga sebenernya, tapi kenapa ga disebut seperti itu ya?Munculnya dari mana siii?Pikir-pikir...pinter juga ya calo itu, bisa memanfaatkan kelemahan orang lain....Hhhhmmm....
Ga Kerja (Lagi)
Dari omong-omongan lewat SMS atau YM! itu, aku jadi mikir, kenapa orang selalu menghubungkan kerja dengan kantor?Terus terang, aku sendiri masih berpikir seperti itu untuk Nana. Kerja yaa ke kantor dan dapet duit tiap bulan. Aku belum ijinin dia untuk usaha sendiri seperti yang dia mau *egois emang*. Tapi buatku (dan Nana juga), sebetulnya kerja di rumah itu menyenangkan karena kita ya ga usah pake ongkos buat keluar dan rumah tetep dalam pengawasan. Tapi kenapa mindset selalu mengatakan "kerja ya di kantor yang nota bene bukan di rumah" ?Mungkin itu juga yang mengilhami orang-orang sehingga yang namanya di rumah itu sepertinya ga ada kerjaan. Sepertinya yaa... Padahal kalo mau, di rumah itu kalo ga mo diem ya apa aja bisa dikerjain. Beberes, ato masak, ato nonton, ato berkebun (pake pot kalo ga punya tanah), ato ngapain aja melakukan hobi.
Pengalamanku yang tadinya bekerja dan sekarang diem di rumah, memang kadang membosankan, apalagi kalo lagi mati lampu sementara masak dah beres dan batere note book dah minim, tapi orang bekerja juga sama tho?Kadang membosankan mengerjakan pekerjaan yang sama tiap hari.
Mungkin (seperti kataku -pembenaran-), malahan di rumah juga tidak membosankan. Aku tiap hari menunggu jam 2 atau 3 siang untuk menyalakan note book dan berbincang dengan teman-teman lewat YM!Atau cek email untuk mengetahui kabar orang-orang nun jauh di sana atau sekedar membaca pikiran orang-orang melalui tulisan-tulisannya...Atau melihat karya orang dari situs yang ada atau mencari informasi seperti waktu aku mo pergi ke Singapur & Bangkok kemaren.
Nah, seperti contoh yang aku kasih kemaren tentang Femmy & mamanya.... Ngerjain pekerjaan yang duitnya ga sedikit (ya ga Fem?). Tapi di rumah.
Jadi ga kerja bukan berarti ga ada kerjaan tho?Trus, kenapa ya orang-orang 'takut' untuk tidak bekerja?
Dan akhirnya....pertanyaan berubah, jadi apa tujuan kerja DI KANTOR? *makin bingung*
Ga Kerja
Ceritanya, aku pernah sms sama Wie Ling soal dia ntar ke depan gimana. Kalo dia punya anak ntar gimana, sapa yang asuh sementara mertuanya jauh di Jogja dan ortunya udah tua. Sementara kalo punya pengasuh dia agak takut juga...Aku ngajuin opsi "asuh sendiri dan ga kerja" Dia bilang dia akan bingung kalo ga kerja. Katanya kemaren ini aja dia cuti, pengennya jalan terus. Dia ga bisa ngebayangin aku yang tadinya kerja dan ga bisa diem, akhirnya sekarang ga kerja. Aku si bilang, kalo aku di rumah ya ngerjain pekerjaan rumah, nonton ato bikin apa kek yang aku senengin. Tapi kayaknya dia masih bingung.
Cerita lain tentang Mbak Mega yang sakit dan sekali sakit butuh waktu 2-3 bulan untuk sembuh. Aku sempet bilang "kenapa si ga istirahat aja di rumah?" Tapi Hotman bilang kalo Mbak Mega bakalan bosen di rumah. Soalnya kemaren ini aja dia di rumah aja ngerjain kerjaan kantor. Gitu katanya.
Aku jadi mikir....mungkin cuman sebuah pembenaran atas apa yang aku alami saat ini, dimana aku ga kerja, yang kadang-kadang juga membuat aku berpikir.... apa ga kerja artinya ga ada kerjaan?
Aku liat contohnya Femmy dan mamanya...Mamanya kalo ga salah ambil pensiun dini dan kemudian diem di rumah. Tapi mereka bukan ga ada kerjaan, malahan kerjaan mereka banyak kerjaan kok. Malahan kataku jadi asik, kerja di rumah. Kalo dah punya anak, bisa ngasuh anak sambil kerja. Anak ga keteteran tapi juga tetep kerja.
Kepikiran lagi....tujuan kerja itu apa si? *bingung*
Pay It Forward
Yang paling berkesan buatku adalah ada seorang ibu yang kena tindak kejahatan dan diselamatkan oleh sebuah badan di Amrik sana, dan dia berhasil hidup. Padahal lukanya parah banget. Akhirnya, ditambah uangnya 1600 (jadi 2600US$), dia kasih uangnya itu untuk salah seorang korban luka tembak parah di bagian muka yang ada di badan negara yang nyelamatin dia dulu. Juga ketika seorang ibu yang kasih tiket untuk mereka yang jarang negok keluarganya yang sakit di Hawaii.
Yang kurang berkesan adalah orang yang membagikan uang pemberian Oprah itu gitu aja. Misal untuk tips yang gede (di tayangannya dia pesen pizza seharga 18US$ dikasih 200an US$) atau dikasih gitu aja ketika dia lagi isi bensin atau belanja.
Tapi apapun tindakan mereka, prinsip Pay It Forward itu yang mestinya kita pegang.
Jadi inget filmnya. Kalau kita dapet 1 kebaikan, kita mesti balas dengan 3 kebaikan. Wow...prinsip yang sederhana tapi bagus banget.
Wikipedia menerangkan...
Pay it forward or paying it forward refers to repaying the good deeds one has received by doing good things for other unrelated people.
Many people mistakenly believe the phrase "pay it forward" as a moral philosophy first appeared in Catherine Ryan Hyde's novel Pay It Forward, which in 2000 was adapted into a Warner Brothers film, Pay It Forward. Science fiction author Robert A. Heinlein, however, used the phrase in Between Planets, a book published in 1951, almost 50 years before Ryan Hyde's novel.
Heinlein both preached and practiced this philosophy; now the Heinlein Society, a humanitarian organization founded in his name, does so.
One of the most vocal popularizers of the concept of paying it forward -- before Hyde's book and movie -- is probably author Spider Robinson, who made repeated reference to the doctrine, attributing it to his spiritual mentor Heinlein.
In Ryan Hyde's book and movie it is described as an obligation to do three good deeds for others in repayment of a good deed that one receives. Such good deeds should be things that the other person cannot accomplish on their own. In this way, the need to help one another can spread exponentially through society, creating a social movement with the goal of making the world a better place.
In practice the philosophy of pay it forward has broadened relative to its literary roots, and now stands for a more general social responsibility and desire to help others in recognition of the help one has received for one's self. It is also sometimes described as being "good for a favor", meaning a willingness to help others (even strangers) on the expectation that it will all come back around in the end.
The idea of the book has been championed in real life by the Pay It Forward Foundation. The Foundation focuses on bringing the idea of paying it forward to school age children, parents, and educators. The simple idea of doing good works for others to repay the good that has happened to you is one that can easily be conveyed to children and encourages them to be socially aware and take a role in making the world a better place. The main character of the book was a 12-year-old child, thus giving other children someone they can relate to.
In October 2005, Syracuse University's Residence Hall Association began a Pay It Forward Campaign on campus. It spread on campus rapidly, and was noted for entering mainstream Syracuse society as a result. Many other schools have now begun campaigns such as this as well.
On October 26, 2006 Oprah gave her audience a challenge to Pay it Forward, giving 300 audience guests $1,000 USD on a debit card and a camcorder to record the acts of kindness they did. The rules of the challenge were very specific, the money had to be spent within one week and could only be used to help charitable organizations or an individual person but not a relative.
The idea of "paying it forward", but without the pyramid scheme-like exponential growth, appears already in a letter from Benjamin Franklin to Benjamin Webb, dated April 22, 1784.
Kalau aja tiap orang punya prinsip ini, apa ya jadinya dunia?
Bersyukur
Waktu nunggu hujan, aku pikir...kalo orang pernah hidup (=tinggal) di Jawa dan kemudian dia pindah ke pulau lain, mestinya dia akan tau, seperti apa kondisi yang ada di luar Jawa. Kayak kita yang pernah tinggal di Banjarmasin. Kalo di berita, orang cuman tau ada asap yang tebel dan mungkin akan berpikir "untung bukan gue yang kena" itu kita alamin sendiri. Kalo orang antri bensin karena kekurangan pasokan, kita alamin sendiri. Belum lagi air yang mati, listrik yang parah banget. Waktu di Banjarmasin, 2 hari sekali listrik mati 4 jam, sekarang di Balikpapan, kota yang kata orang ibu kotanya Kalimantan, listrik mati 2 hari sekali selama 8-9 jam!
Inget banget, ketika gardu listrik di Jakarta meledak dan Jakarta mati lampu hanya 4-5 hari orang dah ribut banget, sementara di sini?2 hari sekali 8-9 jam!Belum lagi waktu ngobrol ma Budhis yang tinggal di Aceh, kondisinya sama aja ma disini. Kebayang ga si, gimana enaknya hidup di Jawa?Belum lagi kalo listriknya padam malem hari....Kalo ga ujan mending, bisa jalan ke Mall atau Plaza, kalo ujan?Huuuaaa.....
Karena itu, kalo orang yang tinggal di Jawa selalu mengeluh ini itu, sedih rasanya... Soalnya belum tau rasanya hidup berhadapan dengan asap di depan hidup dan sepanjang hari, belum tau rasanya antri di pom bensin nunggu bensin dateng, belum rasain ga ada aer sepanjang 3-4 hari, belum rasain padam listri 2 hari sekali 8-9 jam.... Come on...bersyukur karena ga pernah ngalamin yang kayak gini... Bersyukur tiap hari untuk semua yang udah disediain deh...Jangan cuman bisa ngeluh aje.
Booking
Booking yang laen yang selalu dan tiap taun orang lakuin juga ketika misa Natal dan Paskah. Waduh itu...Kalo ga 2 jam sebelum misa dateng, pasti dah ga kebagian tempat duduk. Tapi kalo dateng 2 jam sebelum misa, ngantuk lah pas misa. Simalakama... :-pMakanya mending jadi petugas deh kalo hari besar gitu, jadi lektor kek, misdinar, koor, ato prdiakon pasti dapet tempat duduk, hehehe....Tapi pengalaman Paskah di Banjarmasin kemaren ga gitu-gitu amat. Padahal di Katedral, dengan jadwal misa cuma sekali atau 2 kali aja. Cukup dateng setengah jam sebelumnya, masih kosong. Enak kan?Nunggu misanya ga terlalu lama, jadi ga ngantuk.
Ngomongin booking yang laen lagi adalah tiket. Karena sekarang aku tinggal di Kalimantan, jadi kalo mo pulang, ga bisa pake bis ato mobil. Bisa si, tapi lama kali yeee...abis waktu di jalan. Belum nyebrang pake kapal, trus dari pelabuhan ke Bandung?Ah lama lah kalo pake darat dan laut. Jalan paling cepet ya pake udara. Tapi kalo dadakan, jatohnya harga tiket bisa mahal banget, jadi kudu booking dulu dah tiketnya paling lambat 2 minggu sebelomnya biar ga terlalu mahal dapetnya. Udah gitu di-issued, dapet deh tiket pesawatnya. Tinggal terbang, naek bis 2-4 jam, nyampe Bandung deh...Ketemu Kiki, David, Ibu, Anto, ah semua deh..Senengnya...
Jadi, ngomongin soal booking, ternyata kalo kita booking sesuatu tuh butuh pengorbanan. Paling gampang adalah waktu. Masuk jam 7 kok dateng jam 4?Misa jam 6 kok dateng jam 4?Trus 2-3 jam itu dipake buat apa ya biar ga kebuang percuma?Bisa baca, tidur, maen game (eh ga mungkin kali yee...masa sekolah bawa game?ke gereja juga), ato ngapain aja deh...Bisa diatur...Trus juga booking butuh uang ekstra. Kalo booking tiket berasa banget kan?Hari ini booking, issued-nya paling lambat 3 hari, berarti uang mesti siap di situ. Kalo sekolah atau ke gereja, taunya pas 2-3 jam itu laper, jajan deh...Uang juga keluar.Wah ternyata booking butuh pengorbanan ya?Belom lagi kudu sabar. Kan 2-3 jam itu bukan waktu yang sebentar, kalo ambek-ambekan, ntar disangka ga waras, repot...repot...hehehe....Disitu bisa ngelatih kesabaran. Jadi, buat yang ga sabar, bisa latian pake booking tuh, hehehe....Ternyata, kenyamanan itu butuh pengorbanan ya?
Motor dan Perda
AKu pikir-pikir sebagai pengguna motor....
Pertama, kayaknya perda yang katanya dimulai 1 mei itu kayaknya belum ada sosialisasinya ya, makanya banyak yang kedapetan anak yang numpang belum dipakein helm.
Kedua, mungkin maksud pemerintah Jakarta bener tentang keselamatan itu penggunaan helm dan penumpang itu.
Ketiga, dipikiran ga ya tentang kondisi ekonomi masyarakat sekarang? Maksudnya gini, kalo yang di motor cuman boleh 2 orang, kalo sekarang orang belum bisa beli mobil, mampunya beli motor, kalo dah punya 1 anak aja, gimana ya kalo mo pergi bareng-bareng di hari libur?Bapak ma anak pake motor, ibu pake angkutan umum, atau Bapak ma ibu pake motor, anak naek angkutan (ga mungkin kali yee...), atau Ibu ma anak pake motor, bapak pake angkutan?Ga efisien kali ya?Atau semua pake angkutan umum?Apa itu ya tujuan pemerintah Jakarta?Pake angkutan umum, seperti di tv juga, mimpinya Sutiyoso dimana ada monorel, ada angkutan sungai itu, busway lancar, dll, dll.
Keempat, katanya negara akan maju kalo banyak kredit. Padahal kredit motor lebih terjangkau dibanding dengan kredit mobil tho?Sehingga kalo orang yang kredit motor banyak berarti kan membantu perekonomian negara.
Kelima, kalo frustrasi, mending anak ato mobil?Ada anak ga bisa bareng naek motor, tapi beli mobil ga punya duit. Hmm....
Padahal naek motor kan lebih efisien dari segi perekonomian (bensin lebih irit sehingga uang belanja bisa ditabung) dan segi waktu (karena ada waktu ada uang, hehehe).