Tuesday, April 8, 2008

Cinta

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikaruniai 4 orang anak dan disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun,menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan,membersi hkan kotoran,menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.

Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya ersenyum,untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya,mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak suyatno sudah cukup senang. Bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun,dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya.

Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" .dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya " sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi , kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan merawat ibu bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah,tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah Melahirkan kalian".. sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun.coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.kalian menginginkan bapak bahagia,apakahbathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang".kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya matasuami yg sangat dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber diacara islami.

Selepas shubuh dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita".Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai karena Allah semuanya akan luntur.saya Memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya,mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan ujian bagi saya,sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita kepada Allah diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya..

Selamatkan Bumi Kita

Berlibur (sumber:www. wwf.or.id)

Hindari bepergian dengan pesawat udara jika memungkinkan - perjalanan udara memerlukan jumlah bahan bakar yang sangat besar dan dapat menimbulkan efek rumah kaca.

Buanglah sampah secara bertanggung jawab - ini dapat berbahaya bagi kehidupan liar

Gunakan kembali handuk-handuk dan berpartisipasilah dalam setiap langkah penghematan yang dilakukan oleh hotel

Buanglah sampah sanitasi secara benar. Jangan membuang cotton buds, kondom, tampon dan plastik ke dalam toilet - atau anda akan menemukannya kembali di pantai saat kunjungan anda berikutnya

Ambil semua sampah rumah tangga di pantai - penyu seringkali terbunuh oleh sampah plastik yang seringkali keliru dianggap sebagai ubur-ubur oleh penyu. Banyak sampah berbahaya yang memerlukan waktu tahunan untuk diurai.

Hargai alam Jangan ikut berpartisipasi dalam kegiatan berburu atau memancing kecuali jika kegiatan tersebut bertujuan untuk ambil bagian dalam rencana pengelolaan yang lebih efektif.

Jangan tergoda untuk menyentuh binatang/hewan liar dan menganggu habitat baik di darat, pantai maupun dalam laut

Berhati-hatilah saat memilih suvenir untuk dibawa pulang. Banyak spesies dari koral sampai gajah dan alligator terancam kepunahan karena mereka banyak diambil untuk suvenir.

Kapal boat dan jet-ski menimbulkan polusi suara dan kimia yang akan mengganggu kehidupan liar - jangan biarkan mesin terus-terusan menyala jika tidak digunakan

Jika anda berlayar, berselancar atau berselancar angin, jagalah jarak paling tidak 100m dari sarang anjing laut atau burung laut agar tidak menganggu mereka.

Hemat energi
Matikan semua alat elektronik saat tidak digunakan. Kerlip merah penanda standby menunjukkan alat tersebut masih menggunakan listrik.
Artinya Anda terus berkontribusi pada pemanasan global.
Pilihlah perlengkapan elektronik serta lampu yang hemat energi
Saat matahari bersinar hindari penggunaan mesin pengering, jemur dan biarkan pakaian kering secara alami.

Hemat air
Matikan keran saat sedang menggosok gigi
Gunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman
Segera perbaiki keran yang bocor - keran bocor menumpahkan air bersih hingga 13 liter air per hari Jika mungkin mandilah dengan menggunakan shower.
Mandi berendam merupakan cara yang paling boros air.

Hemat kayu dan kertas
Selalu gunakan kertas di kedua sisinya
Gunakan kembali amplop bekas
Kurangi, pakai lagi dan daur ulang (Reduce, Reuse and Recycle)
Bantulah mengurangi tumpukan sampah dunia
Jangan gunakan produk 'sekali pakai' seperti piring dan sendok kertas atau pisau, garpu dan cangkir plastik
Gunakan baterai isi ulang
Pilih kalkulator bertenaga surya
Simpan makanan dalam wadah keramik

Kembalian

Sekarang uang kembalian dari belanja sering jadi masalah. Termasuk aku...Ya bete lah kalo kembalian kurang...Sebetulnya si bukan jumlahnya, tapi niatan dari kasirnya untuk ga ngembaliin itu yang mengesalkan. Lebih mengesalkan lagi, adanya kesempatan dari toko/pengusaha untuk membuat itu...Punya harga belakangnya bukan 25 atau 50 atau kalopun harga belakangnya 25 atau 50 kembaliannya ga disediain pecahan 25 atau 50. Lha piye iki?Niat apa kagak?

Belum lagi di PLN sini....Balikpapan. PLN Balikpapan...Kalo bayar listrik...kita kasihin pembayaran yang bulan kemaren, trus sama dia di-print trus nyebutin dengan jumlah kelipatan 1000. Terus...kalo kita dah bayar, dia kembaliinnya sesuai dengan yang dia sebutin walopun jumlahnya ga segitu. Misal...di rekeningnya tertulis 47745 rp, kita bayar 50rb, dia kembaliin 2rb. Bayangin kalo hari itu yang bayar 50 orang. Kelebihannya misal 200, sehari 10rb..padahal listrik dibayar sampe tanggal 20. Lumayan tuh...

Pernah juga kejadian di parkiran BC. Balikpapan Center...Balikpapan lagi... Parkir motor 2 jam pertama 500 perak. Kalo kita bayar pake uang 1000 ga dikembaliin!!!

Jadi inget...waktu Nana jadi teller, uang itu mesti pas, ga boleh ada lebih ga boleh kurang. Ga boleh ada selisih intinya. Kalo ada selisih, dia didenda. Coba kalo supermarket atau apapun deh yang pake kembalian ada kayak gitu...kan enak...semua balance...

Tapi anehnya...si pengusaha ini, yang masalah ini dah masuk tivi, koran, ya ga digubris...walopun dengan tujuan perang harga, tapi siapin dong solusinya....

Sebel...sebel..sebel...Ga ada solusi....

Monday, April 7, 2008

Takakura Home Method

  1. Mula-mula siapkan bakteri padat sesuai dengan kapasitas wadah/keranjang yang akan kita pakai. (bakteri padat di Bandung bisa dibeli di Jl. Kemuning 25, di Balikapapn bisa dibeli di Prapatan Dalam)
  2. Siapkan sebuah keranjang kapasitas 10 kg (bisa dari plastik, anyaman bambu, kardus atau bahan lainnya yang tidak mudah hancur kena air), tutupi seluruh sisinya dengan kardus (bagian alas dan tutupnya dibiarkan terbuka).
  3. Buatkan bantalan sekam 2 buah berukuran masing-masing sesuai dengan luas alas dan luas permukaan tutup.
  4. Bahan bantalan terbuat dari jaring plastik yang anyamannya jarang lalu dimasukkan sekam di dalamnya, lalu ujung-ujungnya ditutup rapat. Satu bantal diletakkan di bagian alas keranjang satu lagi disimpan untuk tutupnya.
  5. Setelah itu, masukkan bahan kompos kering ke dalam keranjang tersebut, tutup dengan bantalan sekam, lalu tutup dengan kain lalu tutup dengan penutup keranjang tersebut. Kalau tidak ada tutup dapat diganti dengan keset atau kardus.
  6. Gali lubang dengan menggunakan peralatan cetok tepat di tengah kompos yang sudah jadi, sehingga terbentuk lubang. Gali sesuai jumlah sampah yang akan dimasukkan.
  7. Sampah yang boleh masuk : sampah sayur baru, sisa sayur basi, sisa nasi basi, sisa makanan pagi, siang, malam, sampah buah (anggur, kulit jeruk, apel, dll) kecuali kulit buah yang keras, sampah ikan laut atau ikan tawar atau daging
  8. Masukkan sampah yang sudah dicacah halus tepat di lubang yang digali tadi, kemudian tusuk-tusuk sampah sampai masuk ke dalam kompos. Sampah yang akan dimasukkan diusahakan sampah baru atau sampah yang berumur 1 hari.
  9. Timbun sampah yang sudah ditusuk-tusuk tadi dengan menggunakan kompos yang ada di tepian lubang, sehingga sampah tertutupi dengan kompos yang sudah jadi. Tujuannya agar terjadi proses dekomposisi atau pengomposan secara optimal dan mencegah timbulnya larva-larva lalat atau serangga lain.
  10. Tutup kembali dengan menggunakan bantal sekam. Tujuannya untuk menyaring gas-gas dari proses dekomposisi.
  11. Tutup kembali dengan kain, supaya lalat tidak dapat bertelur di dalam keranjang pengolahan sampah yang dapat menimbulkan belatung, serta mencegah metamorfosis dari belatung menjadi lalat, karena lalat tidak dapat keluar dan mati di dalam keranjang.
  12. Hindarkan dari sinar matahari langsung
  13. Hindarkan dari hujan (taruh di tempat teduh)
  14. Cara perawatan : cuci kain penutup satu minggu sekali, bila kompos kering, siram dengan air bersih sambil diaduk, dalam 3-6 bulan kardus harus diganti
  15. Bila keranjang penuh, maka 1/3 dari kompos itu dapat kita ambil dan kita matangkan di taman yang terlindung dari sinar matahari selama kurang lebih 1 bulan, sehingga sisa kompos tersebut dapat kita gunakan sebagai starter awal dalam pengolahan sampah.

Sumber : Mari Bertanggung Jawab terhadap Sampah Yang Kita Hasilkan, Tim Aksi Lingkungan Hidup, Bandung.

Sampah (lagi)

Sampah semakin banyak

  1. Menurut Sefrianus Yosep, Kepala Bagian Hukum dan Hubungan Masyarakat PD Kebersihan, setiap harinya rata-rata jumlah sampah di Kota Bandung sebanyak 5.000 m3, atau sekitar 0,5 kg/orang/hari.
  2. Jika semua sampah di Bandung diangkut dengan truk berukuran 12 m3, dibutuhkan setidaknya 450 truk untuk mengangkutnya.
  3. Di Bandung dalam setahun = besarnya 33 kali Candi Borobudur.
  4. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah. Misalnya saja, kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 perhari dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 perhari. Jika dihitung dalam setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (valume Candi Borobudur = 55.000 m3)

[Bapedalda, 2000]


Sifat setiap jenis sampah :
Sampah Organis
Sifat :

  • dapat membusuk secara alami dalam waktu relatif singkat (beberapa bulan)
  • umumnya tidak beracun (kecuali bila tercampur dengan jenis sampah yang lain)
  • dalam keadaan tertentu : dapat menjadi media bibit penyakit dan menimbulkan bau (bila pengolahannya salah)


Pengolahan :

  • dengan relatif mudah dapat diolah menjadi pupuk (kompos)
  • sampah kertas bisa didaur ulang menjadi kertas kembali


Saran :
usahakan menggunakan sebanyak mungkin bahan organis


Plastik
Sifat :

  • amat sukar membusuk secara alami (waktu penghancuran mencapai ratusan tahun)
  • dibuat dari bahan beracun yang dapat lepas kembali saat digunakan, dibuang atau dibakar
  • tidak menghasilkan bau dan bibit penyakit (bila tidak dicampur dengan sampah organis)

Pengolahan :

  • sebagian kecil jenis plastik bisa didaur ulang (terutama plastik dengan kode 1 dan 2)
  • plastik hanya dapat didaur ulang 1 kali

Saran :
hindari sedapat mungkin terutama bahan-bahan sekali pakai
ingatlah : menggunakan plastik hampir pasti menambah bahan pencemar di bumi ini.

Logam
Sifat :
dapat mengurai secara alami melalui proses pengkaratan (butuh waktu puluhan sampai ratusan tahun)
Pengolahan :
umumnya dapat didaur ulang sampai waktu tak terhingga (kecuali logam campuran)
Saran :
gunakan seperlunya

Kaca/gelas
Sifat :

  • tidak dapat mengurai secara alami
  • ada yang mengandung timbal

Pengolahan :
mudah didaur ulang sampai waktu tak terhingga

Saran :
gunakan seperlunya

Batu baterai
Sifat :

  • mengurai secara alami melalui proses pengkaratan
  • mengandung berbagai logam berat beracun : kadmium, timbal, litium, mangan, merkuri, nikel, perak dan seng
  • pengaratan melepaskan berbagai racun yang dikandung

Pengolahan :
dapat didaur ulang denganteknologi tinggi
Saran :
kurangi sedapat mungkin penggunaannya


Popok sekali pakai (pampers)
Sifat :
tidak dapat mengurai secara alami
mengandung banyak bibit penyakit (termasuk sisa dari vaksin polio atau hepatitis)
Pengolahan :
tidak dapt didaur ulang
Saran :
kurangi sedapat mungkin, gunakan popok kain

Harta Karun Untuk Semua

Oleh: Dewi LestariHari ini kiriman buku yang saya pesan dari Amazon.com datang. Ada satu buku yang langsung saya sambar dan baca seketika. Judulnya: "Stuff - The Secret Lives of Everyday Things". Buku itu tipis, hanya 86 halaman, tapi informasi di dalamnya bercerita tentang perjalanan ribuan mil dari mana barang-barang kita berasal dan ke mana barang-barang kita berakhir.

Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: orang gila mana yang mencipta sesuatu yang tak musnah ratusan tahun tapi masa penggunaannya hanya dalam skala jam-bahkan detik? Bungkus permen yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.

Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik, tanpa cat, tanpa deterjen, tanpa karet, tanpa mesin, tanpa bensin, tanpa fashion. Dan sebagai konsumen dalam sistem perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak dilatih untuk mau tahuke mana kemasan styrofoam yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju semusim yang kita beli membabi-buta.

Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir, yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita sendiri?Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air. Untuk mencuci secangkir kopi, kita butuh air sebaskom. Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594 literair, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan chip kecil yang bekerja di dalamnya? Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada berat chip itu sendiri.

Mengetahui mata rantai tersembunyi ini bisa menimbulkan berbagai reaksi. Kita bisa frustrasi karena terjepit dalam ketergantungan gaya hidup yang tak bisa dikompromi, kita bisa juga semakin apatis karena tidak mau pusing. Yang jelas, sesungguhnya ini adalah pengetahuan yang sudah saatnya dibuka. Pelajaran Ilmu Alam, selain belajar penampang daun danmembedah jantung katak, dapat dibuat lebih empiris dengan mempelajari hulu dan hilir dari benda-benda yang kita konsumsi, sehingga tanggung jawab akan alam ini telah disosialisasikan sejak kecil.

Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat lantai, Pasar Baru, atau berjalan-jalan ke Gasibu pada hari Minggu di mana ada lautan PKL: tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap hari selalu ada jubelan pakaian baru yangmenggelontori pasar. Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki hypermarket dan melihat ratusan macam biskuit, ratusan varian mie instan, dan ratusan merk sabun: haruskah kita memiliki pilihan sebanyak itu?

Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan?

Atas nama kecukupan, satu manusia bisa hidup dengan lima pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan, satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari.
Atas nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu manusia.

Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca mata. Seorang ekonom mungkin akan menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi. Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan ini akan kembali ke pangkuan kita. Dan kesadaran serta kemauan kitalah yang pada akhirnya akan memungkinkan sebuah perubahan sejati.

Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protocol Kyoto, tidak perlu juga menunggu penjarah hutan tertangkap, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.Saya belum bisa mengorbankan komputer karena itulah instrumen saya bekerja, tapi saya bisa lebih awas dengan jam penggunaan dan mematikannya jika tidak perlu.

Saya belum bisa mengorbankan kebutuhan akan informasi, tapi saya bisa memilih membaca berita lewat internet atau membaca koran di tempat publik ketimbang berlangganan langsung.
Bagaimana dengan fashion?

Di dunia citra ini, dengan profesi yang mengharuskan banyak tampil di muka publik, saya pun belum bisa mengorbankan keperluan fashion (baca: membeli busana lebih sering dari yang dibutuhkan), tapi saya bisa membuat komitmen dengan lemari pakaian, yakni baju yang saya miliki tidak boleh melebihi kapasitas lemari saya. Jika lebih, maka harus ada yang keluar. Dan setiap beberapa bulan saya dihadapkan pada kenyataan bahwa ada baju yang tidak saya pakai setahun lebih atau baju yang cuma sekali dipakai dan tak pernah lagi. Bukan cuma baju, ada juga buku, pernik rumah, alat dapur, bahkan sabun dan sampo yang utuh tak disentuh.

Alhasil, dalam rumah saya ada semacam peti-peti 'harta karun', yang berisikan barang-barang yang harus keluar dari peredaran, karena jika dipertahankan hanya menjadi kelebihan tanpa lagi unsur manfaat. Harta karun ini lantas harus dicarikan lagi outlet untuk penyaluran.

Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Saya ikut berpartisipasi, dan sayalah satu-satunya penjual barang bekas di antara penjual barang-baru baru. Karena bukan demi cari untung, barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya sudah kehabisan dagangan.
Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya yang barangkali juga punya barang bekas untuk disalurkan. Sama dengan saya, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan. Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang yang sudah dianggap sampah.

Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen-komitmen pembatasan diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan rak kamar mandi, dengan laci dapur, dan padaintinya... dengan diri sendiri. Siapkah kita menentukan batasan dan berjalan dalam koridor itu?

Dan, yang lebih susah lagi, adalah pengendalian diri dari awal bersua aneka pilihan yang membombardir kita setiap hari, lalu sadar dan mawas akan rantai sebab-akibat yang menyertai pilihan kita. Membuka diri untuk info dan pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapikantong kresek yang kita buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan hilang hanya karena kita menolak tahu.

Banyak orang yang berkomentar pada saya, "Aduh, Wi. Kamu bikin hidup tambah susah saja." Dan mereka benar. Hidup ini tak mudah. Untuk itu kita justru harus belajar menghargai setiap jengkalnya. Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih eling danterkendali, tapi juga membantu Bumi ini dan jutaan manusia yang dijadikan alas kaki oleh industri demi pemenuhan nafsu konsumsi kita sendiri.

Lingkaran setan? Ya. Tapi tidak berarti kita tak sanggup berubah.

Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya kita cari.

Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan. ***

Sampah

Sejak Agustus kemaren aku concern banget soal sampah. Ga tau ni kenapa...
Aku ikut seminar tentang sampah untuk dijadiin kompos, aku liat TV tentang pemanfaatan sampah, ah pokoknya tentang sampah deh, hehe...
Kalo dipikir-pikir...mestinya sekarang timbunan sampah itu bisa dikurangi lhooo...lha, sampah organik bisa dijadiin kompos, sampah plastik bekas bungkus detergen dll bisa dijadiin barang lain, botol bisa dijadiin souvenir atau dihias dijadiin hadiah, botol plastik bisa dijual lagi ke produsennya atau dijadiin mainan, tapi kenapa ya sampah masih aja numpuk?
Pengalaman kemaren ini seminar tentang pembuatan kompos, sebetulnya kita bisa bikin kompos sendiri secara sederhana. Dengan metode keranjang Takakura atau dengan bantuan urea. Malahan kalau dalam jumlah besar, kompos bisa dijual. Caranya cuma kita tinggal misahin sampah organik dan nonorganik aja. Yang organik, diolah jadi kompos. Nah...yang nonorganik bisa dikumpulin dan dijadiin barang lain. Liat di TV, ada yang dijadiin tas, tempat sampah, payung, dlsb.

Sampaaaaahhh....oooohhhh....sampaaahhh....

*dilanjutin besoksoalnyalagigakonsennijadingacobahasanya*